`Read ⇻ Soe Hok-Gie...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya ↼ PDF eBook or Kindle ePUB free

good Soe Hok Gie merupakan aktivis yang selalu berani memberikan kritik terhadap kebijakan yang dinilainya merugikan masyarakat Keberaniannya timbul meniru keberanian Soekarno, Hatta, dan Sjahrir Soekarno, Hatta, Sjahrir juga berani berontak, makanya kita bisa hidup dalam keadaan sekarang Dalam lain waktu, Soe Hok Gie mengatakan Lebih baik diasingkan ketimbang menyerah pada kemunafikan Keberanian yang layak diacungi jempol, sekaligus ditiru.Soe yang merupakan keturuan Cina, yang notabene serin Soe Hok Gie merupakan aktivis yang selalu berani memberikan kritik terhadap kebijakan yang dinilainya merugikan masyarakat Keberaniannya timbul meniru keberanian Soekarno, Hatta, dan Sjahrir Soekarno, Hatta, Sjahrir juga berani berontak, makanya kita bisa hidup dalam keadaan sekarang Dalam lain waktu, Soe Hok Gie mengatakan Lebih baik diasingkan ketimbang menyerah pada kemunafikan Keberanian yang layak diacungi jempol, sekaligus ditiru.Soe yang merupakan keturuan Cina, yang notabene sering disebut sebagai kaum minoritas di negeri ini, tidak peduli akan berbagai perkataan orang orang disekelilingnya Pernah Soe menerima surat kaleng yang meminta dia untuk kembali ke Cina saja Namun tentu saja dihiraukannya.Soe yang merupakan pecinta alam, sering memimpin Mapala Mahasiswa Pecinta Alam UI dalam melakukan pendakian gunung Terakhir, perjalanan mereka adalah mendaki Semeru Di puncak Semeru pula, Soe dan Idhan Lubis meninggal dunia Tepat sehari sebelum hari ulang tahun Soe yang ke 27.Dalam catatan hariannya, Soe yang nge fans kepada Joan Baez, penyanyi folk dan juga seorang aktivis berkebangsaan Amerika Lirik favorit Soe adalah Nobody knows the trouble I ve seen Nobody knows my sorrow.Yang paling saya sukai dari buku ini adalah, bagian ke empat dan ke lima Bagian ke empat merupakan tulisan tulisan dari berbagai orang yang mengenail Soe baik secara langsung ataupun melalui tulisan tulisannya Bagian ke empat ini memberi gambaran yang jelas bagi saya tentang bagaimana seorang Soe yang sebenarnya.Bagian ke lima adalah tulisan tulisan Soe yang diterbitkan di berbagai surat kabar Tulisan tulisan tersebut mengkritisi kehidupan pada jamannya Salah satu tulisan yang saya suka adalah, tulisan yang berjudul Dosen dosen juga perlu dikontrol.Pada tulisan tersebut, dijelaskan bahwa pada Soe melihat dosen banyak yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik Datang tidak tepat waktu, materi asal asalan Bahkan ada dosen yang ogah masuk, cuma diberi materi trus datangnya pas jam ujian Ada juga yang menugaskan mahasiswa untuk menterjemahkan buku dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia, kemudian dosennya mengajar dari hasil terjemahan tersebut Tragis.Kenapa saya suka tulisan yang ini Mungkin karena saya sekarang mahasiswa, dan kenyataan yang saya lihat sekarang tidak jauh beda dengan kenyataan yang digambarkan pada tulisan tersebut Tulisan tersebut diterbitkan pada tahun 1968, dan sekarang tahun 2010 42 tahun berlalu, dan ternyata tidak banyak perubahan Paling tidak demikian jika kita melihat keadaan di kampus dimana saya kuliah saat ini.Oh, ya review ini juga saya tulis dari ruang lab kampus Materinya adalah HTML, cocok buat anak kelas 4 SD Mumpung dosennya duduk enak di depan, jadi saya nge goodreads aja D Buku ini memang berbeda dengan buku buku karya Soe Hok Gie yang telah beredar sebelumnya di pasaran Saya menyebut karya dengan tanda kutip , karena Soe Hok Gie Sendiri tidak pernah menulis satu buku pun, dan buku buku yang beredar menggunakan namanya adalah hasil inisiatif dari beberapa pihak agar tulisannya tetap terdokumentasi dengan baik bukan inisiatif dari Soe Hok Gie.Jika buku buku Soe Hok Gie sebelumnya berisi tentang catatan hariannya Catatan Seorang Demonstran artikel artikel Buku ini memang berbeda dengan buku buku karya Soe Hok Gie yang telah beredar sebelumnya di pasaran Saya menyebut karya dengan tanda kutip , karena Soe Hok Gie Sendiri tidak pernah menulis satu buku pun, dan buku buku yang beredar menggunakan namanya adalah hasil inisiatif dari beberapa pihak agar tulisannya tetap terdokumentasi dengan baik bukan inisiatif dari Soe Hok Gie.Jika buku buku Soe Hok Gie sebelumnya berisi tentang catatan hariannya Catatan Seorang Demonstran artikel artikelnya di berbagai media Zaman Peralihan skripsi sarjana muda Di Bawah Lentera Merah dan skripsi sarajana Orang Orang di Persimpangan Kiri Jalan , maka buku ini berisi tulisan tulisan dari para individu yang menjadi teman Soe Hok Gie semasa hidupnya, atau mereka yang merasa terpengaruh oleh tulisan tulisan Soe Hok Gie Meski demikian, masih ada beberapa tulisan Soe Hok Gie yang turut dicantumkan dalam buku ini yang saya rasa beberapa diantaranya telah ada di Zaman Peralihan.Membaca tulisan tulisan dalam buku ini memberikan perspektif baru dalam melihat Soe Hok Gie sebagai tokoh yang belakangan sudah dikultuskan Karena bukunya yang sangat legendaris di kalangan mahasiswa dan aktivis, sekaligus suksesnya film GIE yang dibintangi oleh Nicholas Saputra, menegaskan pengultusan Soe Hok Gie Dari buku ini, khususnya tulisan teman teman dekatnya semasa di Mapala FSUI, saya bisa mendapatkan kesan bahwa Soe Hok Gie bukanlah seorang aktivis mahasiwa yang jauh dari jangkauan, karena dirinya tak beda dengan mahasiswa mahasiswa lain yang berkelakuan layaknya mahasiswa jarang pulang, candaan candaan tak jelas, ngerumpi ngegosip , termasuk sikap saya semasa menjadi mahasiswa.Tulisan ini pun akan memberikan cakrawala baru bagi mereka yang terlanjur mengenal Soe Hok Gie lewat buku buku sebelumnya dan film GIE Karena dari buku ini, kita dapat merasakan bagaimana orang lain memandang Soe Hok Gie, baik itu sebagai kawan, teman dekat, rekan aktivis, ataupun mahasiswa FSUI Hal ini sangat berbeda ketika membaca buku buku sebelumnya yang akan membawa kita pada dunia dimana Soe Hok Gie memandang realitas kontemporer pada saat itu menurut perspektinya sendiri.Yang lebih menyenangkan lagi, buku ini menyediakan lebih banyak dokumentasi visual ketimbang buku buku sebelumnya Catatan Seorang demonstran hanya menyelipkan beberapa foto saja, sementara tiga buku lain sama sekali tidak memuat foto dari Soe Hok Gie Dengan banyaknya foto dalam buku ini, kita akan bisa merevisi imaji atas Soe Hok Gie yang sudah terlanjur terbentuk dengan wajah Nicholas Saputra dari film GIE apalagi buku Catatan Seorang Demonstran pernah dicetak ulang dengan sampul menggunakan poster film GIE.Bagi anda yang belum mengenal Soe Hok Gie, saya tidak menyarankan buku ini dibaca sebagai inisiasi, karena saya menganggap bahwa buku ini lebih berperan sebagai pelengkap dari Catatan Seorang Demonstran Kalau enggan membaca, film GIE pun sudah bisa memberikan deskripsi yang cukup umum mengenai Soe Hok Gie Setelah itu, barulah buku ini bisa dinikmati dengan lebih komprehensif Tetapi, ini hanya saran saya saja Semoga kedepannya akan semakin banya buku buku yang berkaitan dengan Soe Hok Gie Nobody knows the trouble I See Nobody knows my sorrow NB Saya baru sadar, kalau ternyata penulisan nama Soe Hok Gie yang benar adalah SOE HOK GIE dengan huruf kapital semua atau Soe Hok gie Empat puluh tahun silam, tepatnya tanggal 16 Desember 1969, bangsa Indonesia kehilangan seorang aktivis mahasiswa yang idealis, brillian dan berani mengambil sikap baik dalam pemikiran maupun dalam pergerakan So Hok gie, atau akarab dipanggil Gie ditemukan tewas di atas puncak Gunung Semeru, Jawa Timur tepat sehari sebelum ia merayakan hari ulang tahunnya ke 27 yang ia rencanakan akan dirayakan di puncak Mahameru bersama kawan kawannya.Walau telah 40 tahun berselang namun nama dan kiprahnya mas Empat puluh tahun silam, tepatnya tanggal 16 Desember 1969, bangsa Indonesia kehilangan seorang aktivis mahasiswa yang idealis, brillian dan berani mengambil sikap baik dalam pemikiran maupun dalam pergerakan So Hok gie, atau akarab dipanggil Gie ditemukan tewas di atas puncak Gunung Semeru, Jawa Timur tepat sehari sebelum ia merayakan hari ulang tahunnya ke 27 yang ia rencanakan akan dirayakan di puncak Mahameru bersama kawan kawannya.Walau telah 40 tahun berselang namun nama dan kiprahnya masih terus dikenang hingga kini Beberapa tahun setelah kematiannya, namanya sempat terlupakan hingga akhirnya LP3ES yang saat itu masih merupakan LSM kecil menerbitkan catatan harian Gie yang diberinya judul Catatan Seorang Demonstran pada tahun 1983.Terbitnya buku tersebut kembali mengingatkan orang pada tokoh Gie Tak sekedar itu, buku tersebut bahkan menginspirasi dan mengangkat moril gerakan mahasiswa di tahun 80 an yang sedang terpuruk Itulah Gie, ia tak hanya memberi inspirasi ketika ia masih hidup, dua puluh tahun setelah kematiannyapun Gie masih mampu memberi inpirasi baru pada gerakan mahasiswa saat itu.Setelah itu seiring berjalannya waktu, namanya Gie kembali terlupakan hingga akhirnya di tahun 90an tulisan tulisan Gie yang pernah dipublikasikan di harian harian nasional dibukukan oleh penerbit Bentang Budaya dengan judul Zaman Peralihan 1995 , lalu menyusul skripsi S1 nya yang berjudul Orang orang di persimpangan kiri Jalan 1997.Di tahun 2001 muncul terjemahan biografi politik SHG yang berjudul SOE HOK GIE Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani karya sejarahwan Australia, John Maxwell Setelah beberapa buku ttg Soe Hok Gie diterbitkan, di tahun 2005 sutradara kondang Riri Reza pun membuat film berjudul Gie yang diambil dari catatan hariannya.Kiini dalam rangka memperingati 40 tahun kematiannya bulan Desember yang lalu, kawan2 dekat so Hok Gie berinisiatif menerbitkan buku tentang Gie yang isinya merupakan kumpulan tulisan dari teman, sahabat, hingga tokoh2 tokoh terkenal di negeri ini Itulah sebabnya buku ini diberi judul Soe Hok Gie Sekali Lagi , seolah ingin menegaskan bahwa inilah buku kesekian mengenai Soe Hok Gie yang pernah diterbitkan.Dibanding dengan buku buku lainnya tentang Gie, buku ini tak kalah menariknya malah memiliki keunikan sendiri, kalau selama ini kita mengenal Gie dari catatan harian, tulisan tulisannya, dan pandangan John Maxwell, maka di buku ini kita bisa melihat sosok Gie dari pandangan sahabat sahabat terdekatnya dan dari orang orang yang mengaku terpengaruh oleh spirit dan semangat perjuangan Gie baik semasa hidupnya maupun setelah membaca tulisan tulisan Gie.Buku gemuk ini dibagi menjadi lima bagian besar, bagian pertama berisi satu tulisan panjang Rudy Badil, salah satu rombongan Gie ke puncak Semeru yang secara rinci menceritakan perjalanannya bersama Gie mulai dari Stasiun Gambir, Jakarta hingga proses evakuasi jenazah Gie dan Idham dari puncak Mahameru ke Gubuk Klakah, sebuah desa di kaki gunung Semeru.Bagian ini merupakan bagian yang paling menarik karena selama ini belum pernah terungkap secara bergitu mendetail bagaimana saat saat terakhir hidup Gie, bagaimana kondisi jenasah Gie dan Idham setelah berhari hari terlantar di puncak Mahameru, dan bagaimana kondisi fisik dan mental teman teman seperjalanannya dalam mencari bantuan dan mengevakuasi jenasah Gie dan Idham.Di bagian kedua, dikisahkan bagaimana reaksi masyarakat dan pers dalam dan luar negeri yang begitu responsif begitu mendengar kematian Hok Gie hingga Prof Soemitro Djojohadikusumo yang saat itu telah menjadi menteri menyempatkan diri untuk melayat jenasah Gie dan memberikan kata sambutannya di FS UI Selain itu bagian ini juga menyajikan berbagai hal menarik seperti bagaimana puluhan tahun setelah kematian Gie namanya disangkut pautkan dengan peta harta karun peninggalan Jepang yang konon saat itu sedang diterjemahkan oleh Gie dan secara tidak sengaja ditemukan oleh oleh tim SAR saat sedang mengavakuasi jenazah Gie.Selain itu di bagian ini terungkap pula hal hal yang menyangkut gunung Semeru seperti temuan Arca Kembar yang selama ini dianggap hilang, lalu ada juga tulisan tentang serba serbi Semeru yang tentunya bermanfaat bagi para pendaki gunung.Bagian ketiga buku ini yang berisi tulisan tulisan dari teman teman Gie di FS UI tak kalah menariknya Di bagian ini kita akan melihat sosok manusiawi Gie secara apa adanya Sisi lain Gie dalam kesehariannya sebagai seorang mahasiswa terungkap di tulisan Kartini Sjahrir dan Luki Sutirsno Bekti yang secara jujur menceritakan pengalamannya berteman dekat dengan Gie.Menurut pernagakuan Kartini, seperti anak muda pada umumnya dalam pergaulannya tak jarang Gie mengeluarkan celetukannya yang suka menyerempet nyerempet bawah puser Dalam tulisannya ini Kartini juga secara terbuka menceritakan perasaan hatinya dan kedekatannya dengan Gie sebelum akhirnya menikah dengan Syahrir Bahkan di setiap surat terbukanya,, Kartini selalu memulainya dengan Hok Gie ku yang manis Luki Sutirsno Bekti sebagai salah satu teman wanita Gie yang juga pernah dekat dengannya mengungkapkan Gie sebagai sosok yang moralis dan humanis, selain itu Gie juga merupakan teman curhat yang baik bagi teman teman pria maupun wanitanya Ia juga dikenal suka membantu teman temannya dalam mengerjakan tugas tugas kuliah Luki juga mengulas hubungan kakak beradik Hok gie dan Arief Budiman yang unik.Selain itu di bab ketiga ini ada juga tulisan teman teman lainnya yang melihat Gie dari berbagai sudut pandang , semuanya menggambarkan bagaimana hangatnya, lekatnya, dan akrabnya pertemanan mereka dengan Hok Gie secara jujur dan apa adanya.Di Bagian ke empat, buku ini menyuguhkan berbagai tulisan dari para penulis yang tidak mengenal Hok Gie secara fisik namun mereka mengenalnya lewat pemikiran pemikiran Gie melalui tulisan tulisannya seperti Riri Reza, Nicholas Saputra, Hilmad Farid, N Riantiarno, Stanley Adi Prasetyo, Mona Lohanda, Ben Anderson, dll.Di bagian ini juga Arif Santoso, aktivis mahasiswa 80 an mengetengahkan catatan mengenai gerakan aktivis 1980 an yang tersulut oleh terbitnya Catatan Harian Seorang Demonstran di tahun 1978 Arif juga menceritakan secara kronologis gerakan 1980 an sehingga pembaca akan mengetahui bagaimana para aktivis 1980 an berjuang melawan rezim orde baru yang saat itu begitu intens meredam setiap gerakan mahasiswa.Stanley Adi Prasetro dalam tulisan panjangnya di buku ini mencoba membaca pikiran HAM Soe Hok gie Dari tulisannya ini Stanley mengatakan bahwa Gie merupakan pejuang sejati HAM yang berpikir melebihi zamannya Di tulisan ini akan terungkap walaupun Gie begitu membenci komunisme, namun ketika pemerintah membabat habis orang orang PKI secara membabi buta, Gie mengutuk keras peristiwa ini.Lalu ada juga tulisan Lona Mohanda, sejarahwan, yang mencoba menguliti skripsi Hok gie yang pada akhirnya mengaminkan apa yang dikatakan oleh almarhum Prof Harsya W Bachtiar yang berpendapat bahwa soe Hok gie itu seorang kolumnis yang baik, tapi tidak sebagai sejarahwan.Di bagian kelima yang merupakan bagian terakhir dari buku ini diketengahkan tujuh belas tulisan Gie yang tersebar di berbagai media baik tulisan mengenai pendakian gunung, hingga persoalan persoalan politik yang terjadi pada masa itu.Menarik memang membaca keselurahan tulisan tulisan yang terdapat dalam buku ini Buku yang ditulis oleh 30 orang ini memberikan gambaran yang iutuh akan sosok Gie yang sebelumnya hanya kita kenal lewat catatan hariannya atau tulisan tulisannya saja Karena buku ini merupakan kumpulan tulisan dari berbagai orang maka masing masing memiliki keunikan sendiri, semuanya menarik, hanya saja di bagian ke empat dimana semuanya ditulis oleh orang orang yang hanya mengenal Gie melalui tulisan tulisannya maka terdapat beberapa kesamaan pandangan sehingga agak membosankan.Selain berbagai tulisan tentang Gie, yang tak kalah menariknya adalah dimuatnya puluhan foto2 yang selama ini jarang atau mungkin belum pernah terpublikasikan Kemasan buku ini juga tak kalah menariknya, walau bukunya besar dan gemuk namun sangat nyaman digenggam saat dibaca Pilihan font yang besar dan lay out antara teks dan foto yang dinamis membuat buku ini sangat ramah mata dan membuat betah membacanya berlama lama.Dan yang pasti munculnya kembali buku tentang Gie ini setidaknya mengangkat kembali sosok pribadi yang berintegritas dan memiliki komitmen yang teguh terhadap perjuangannya, hal yang langka ditemukan di masa kini.Di tengah bangsa kita yang tengah mengalami krisis kemanusiaan, keadilan, dan kepemimpinan, sosok Soe Hok Gie ini sangat tepat untuk diangkat kembali sehiingga generasi muda masa kini dapat belajar dari pribadi dan pemikiran Gie yang masih sangat relevan hingga kini.Mungkinkah melalui buku ini Soe Hok Gie sekali lagi memberi inspirasi bagi para pejuang demokrasi dan penegak keadilan bangsa ini Ataukah buku ini hanya sekedar menjadi buku pengingat romantika perjuangan di era 60 an bagi kawan kawan dekatnya Jawabannya ada di tangan para pembaca buku ini htanzilhttp bukuygkubaca.blogspot.com Nice memoir by his closest friends But I still prefer his own words Although, the best part of this book is the inclusion of the poem by Constantine Cafafy, Ithaca.IthacaWhen you set out on your journey to Ithaca,pray that the road is long,full of adventure, full of knowledge.The Lestrygonians and the Cyclops,the angry Poseidon do not fear them You will never find such as these on your path,if your thoughts remain lofty, if a fineemotion touches your spirit and your body.The Lestrygonians a Nice memoir by his closest friends But I still prefer his own words Although, the best part of this book is the inclusion of the poem by Constantine Cafafy, Ithaca.IthacaWhen you set out on your journey to Ithaca,pray that the road is long,full of adventure, full of knowledge.The Lestrygonians and the Cyclops,the angry Poseidon do not fear them You will never find such as these on your path,if your thoughts remain lofty, if a fineemotion touches your spirit and your body.The Lestrygonians and the Cyclops,the fierce Poseidon you will never encounter,if you do not carry them within your soul,if your soul does not set them up before you.Pray that the road is long.That the summer mornings are many, when,with such pleasure, with such joyyou will enter ports seen for the first time stop at Phoenician markets,and purchase fine merchandise,mother of pearl and coral, amber and ebony,and sensual perfumes of all kinds,as many sensual perfumes as you can visit many Egyptian cities,to learn and learn from scholars.Always keep Ithaca in your mind.To arrive there is your ultimate goal.But do not hurry the voyage at all.It is better to let it last for many years and to anchor at the island when you are old,rich with all you have gained on the way,not expecting that Ithaca will offer you riches.Ithaca has given you the beautiful voyage.Without her you would have never set out on the road.She has nothingto give you.And if you find her poor, Ithaca has not deceived you.Wise as you have become, with so much experience,you must already have understood what Ithacas mean.Constantine P Cavafy 1911 Lewat buku ini, pembaca dapat merasakan hari hari terakhir Gie Ketika ia bersama 7 orang lainnya melakukan pendakian di gunung tertinggi di pulau Jawa, Gunung Semeru Hanya minus satu hari dari ulang tahunnya yang ke 27, Gie pergi untuk selama lamanya.ada dua orang yang menjadi korban pertama Gunung Semeru yaitu Soe Hok Gie dan Idhan Lubis Rudy Badil menceritakan detail peristiwa yang telah 41 tahun berlalu Dalam suasana duka, tim yang tersisa masih harus bertahan lagi dengan bekal yang tip Lewat buku ini, pembaca dapat merasakan hari hari terakhir Gie Ketika ia bersama 7 orang lainnya melakukan pendakian di gunung tertinggi di pulau Jawa, Gunung Semeru Hanya minus satu hari dari ulang tahunnya yang ke 27, Gie pergi untuk selama lamanya.ada dua orang yang menjadi korban pertama Gunung Semeru yaitu Soe Hok Gie dan Idhan Lubis Rudy Badil menceritakan detail peristiwa yang telah 41 tahun berlalu Dalam suasana duka, tim yang tersisa masih harus bertahan lagi dengan bekal yang tipis Selama 5 hari, mereka menunggu bantuan evakuasi dari penduduk Jenazah Gie dan Idhan ditinggalkan berdua di tempat kecelakaan.Kepergiannya mengundang simpati dari berbagai kalangan Gie,intelektual muda yang tak pernah goyah idealismenya Ia menjadi penggerak dalam peristiwa 1966 Orde lama tumbang diiringi kemunculan orde baru ketika ia sadar perubahan yang terjadi tak lebih baik dari pemerintahan lama, ia pun tak segan segan mengkritik Ia menuntut keras pembubaran PKI, namun ia mengecam keras ketika terjadi pembantaian besar besaran terhadap orang PKI ataupun yang dianggap PKI.Di saat, rekan rekannya sesama aktivis mendapatkan kursi di Senayan,ia menolak dan kembali ke kampus.Herman Lantang, ketua pendakian, sempat dicurigai dan ditanya Polisi Apakah kematian Soe Hok Gie adalah upaya konspirasi tulisan tulisannya di surat kabar memang membuat gerah orang orang tertentu Apalagi sebelum pergi naik gunung, Gie mengirimkan kaca,gincu,peralatan make up kepada rekan rekan mahasiswa yang duduk di DPR.Beberapa tulisan ditulis oleh teman teman dekat Gie Gie suka berdiskusi, menonton teater,dan menonton film apa saja Minatnya ini juga ditularkan ke teman teman dekatnya tak terkecuali Ker Ker Kartini Sjahrir menuliskan kedekatannya antara dia dengan Gie.Disini, pembaca sedikit mengetahui kisah cinta Gie Sepertinya kedekatan antara Ker dan Gie lebih dalam dari teman biasa tapi dua duanya sama sama memendam Gie baru menyatakan sayang ketika akan berangkat ke Semeru aku mengerti kok curcol Walaupun kepergiannya telah lebih dari 40 tahun lalu,ia meninggalkan catatan harian dan tulisan tulisannya untuk pemuda Indonesia Buku ini wajib baca terutama untuk aktivis mahasiswa Nobody knows the trouble i see, nobody knows my sorrows quote favorit Gie dari buku ini saya dapat mengenal pribadi soe hok gie lebih dekat, sosok yang humanis, seandainya soe hok gie masih hidup dan mendengar langsung bagaimana pandangan orang terdekat tentang dirinya. good Saat baru membaca separuh, saya mengkreditkan empat setengah bintang untuk buku ini Empat setengah bintang itu untuk dua tulisan ini Tulisan pertama, Antar Gie dan Idhan Ke Atas AGKA oleh Rudy Badil.Dalam bagian ini Rudy Badil menuliskan pengalaman seru selama menjadi Tim Semeru 69 yang menjadi teman teman terakhir yang melihat Gie hidup.Rudy Badil sendiri adalah anggota tim yang kerjaannya disuruh masak melulu oleh Gie Setiap pagi ia mendengarkan aba aba Gie untuk memasak.Namun pagi p Saat baru membaca separuh, saya mengkreditkan empat setengah bintang untuk buku ini Empat setengah bintang itu untuk dua tulisan ini Tulisan pertama, Antar Gie dan Idhan Ke Atas AGKA oleh Rudy Badil.Dalam bagian ini Rudy Badil menuliskan pengalaman seru selama menjadi Tim Semeru 69 yang menjadi teman teman terakhir yang melihat Gie hidup.Rudy Badil sendiri adalah anggota tim yang kerjaannya disuruh masak melulu oleh Gie Setiap pagi ia mendengarkan aba aba Gie untuk memasak.Namun pagi pertama setelah Gie meninggal ia merindukan aba aba memasak yang selalu di lontarkan Gie Walupun di lain sisi ia juga lega karena akhirnya bisa merokok tanpa khawatir teguran Gie.Membaca tulisan ini seperti menonton Black Comedy Segar dan tragis Juga kaya karena bersandarkan pada sebuah kisah nyata yang penting Yang mengakhiri kehidupan seorang pemuda kritis seperti Gie.Tulisan kedua adalah Surat Terbuka Ker untuk Hok Gie Oleh Kartini Sjahrir.Sebagaimana formatnya surat, tulisannya sangat impresif Berisi kisah drama percintaan ala pemuda intelektual Ker ini dulu adalah salah satu cewek yang dekat dengan Gie Anak baru masuk yang gemar pakai rok mini ini naksir berat sama Gie Ia rela hanya menjadi permen karet , tempat Gie curhat tentang Inge, cewek yang ditaksir Gie habis habisan tapi menolak cintanya.Pada bagian ini kita juga bisa melihat Gie dari sisi yang lebih manusiawi, misalnya keheranan Ker pada Gie yang suka ngomong nyerempet nyerempet bawah puser.Sebelum Gie pergi semeru dan menutup usianya di gunung itu 16 desember 69, satu hari sebelum ulang tahunnya ke 27 ia bilang sayang pada Ker Sayangnya musibah semeru itu mengandaskan harapan Ker untuk menjadi gadisnya Gie.Saat ini ibu Ker ini menjadi ketua sebuah partai politik, yang menurutnya juga berkat pengaruh Gie di masa mudanya.Ada seabrek tulisan lagi diantaranya dari Nicholas Saputra tentang pengalamannya mengenal gie lewat perannya di filem Juga tulisan tulisan dari orang orang penting lainnya Semacam Mira Lesmana, tentang awal ketertarikannya mengangkat Soe Hok Gie ke dalam filem, juga Ben Anderson kawan dekat Gie tulisannya dalam bahasa Inggris dan seabrek manusia lain yang terkait baik langsung ataupun tidak langsung dengan Soe Hok Gie.Bagian tengah buku ini memang terlalu banyak berkisah tentang pendapat orang lain tentang Gie, sehingga saya merasa agak jenuh karena keterangan keterangan yang mereka sampaikan menjadi tumpang tindih.Padahal saya adalah tipe pembaca yang lebih senang dengan tulisan yang menuruti kaidah Sampaikan sekali Dengan Tepat Sehingga tumpang tindih informasi dari orang berbeda terasa membosankan.Untungnya bagian akhir buku ini di tutup oleh kumpulan tulisan Soe Hok Gie, yang pernah dimuat di koran koran di tahun 1969, yang anehnya masih sangat relevan sekali dengan kehidupan sosial masyarakat, serta carut marut hukum dan perpolitikan di indonesia saat ini.Intinya adalah, buku ini PERLU dibaca Komplit deh Lima bintang `Read ↷ Soe Hok-Gie...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya ⇪ Dari sisa ingatan dan catatan minim, mantan enam rekan Freddy Lasut sudah almarhum perjalanan Soe Hok gietahun dan Idhan Dhanvantari Lubis, berusaha menulis ulang kesaksian sebenarnya tragedi perjalanan pendakian ke Gunung Semeru, nuntahun laluAristides KatoppoHok gie terlalu cepat pergi, tapi kalau dia hidup dan sekarang sudah umurtahun, apa dia tahan tidak bikin ribut ribut Komentar Tides yangtahun lalu, meminta bantuan helikopter TNI AL untuk turun di alun alun kota Malang, lalu ikut heli itu mengapung dan terkurung kabut tebal di kaki SemeruMaman AbdurachmanSaya mungkin shock dan dehidrasi, hingga menganggu kondisi dan stres Tapi saya tidak kesurupan, saya sadar kok, cuma merasa badan panas sekali, ujar Maman yang tidak trauma dan tidak melarang putrinya menjadi pendaki gunung Mapala UI jugaHerman Onesimus LantangSaya yang memimpin evakuasi jenasah Hok Gie dan Idhan, tentu dengan dukungan tim besar dari Malang dan Jakarta, bukan sendirian, ujar Herman yang ketimpa sial juga Masih lelah dan baru masuk ke kota Malang, gua diinterogasi polisi, diperiksa dan diminta kesaksian tentang Hok Gie dan Idhan itu bukan korban pembunuhan di Semeru Anton Wijana alias WiwiekAku satu satunya anggota tim yang fasih berbahasa Jawa, makanya aku diajak turun duluan bareng Tides, untuk minta bantuan ke Malang dan Jakarta Yang terjadi kemudian, ya kerja sama kemanusiaan sejati, kata Wiwiek yang mengenang solidaritas zaman dirinya aktif di pergerakan anak anak jaket kuning UIRudy BadilSaya datang, saya lihat, saya rasakan, saya pulang, saya bertanggung jawab dan saya menulis kembali kesaksian peristiwatahun lalu itu, ujarnya, seraya menjelaskan sulitnya merekonstruksi ingatan masatahun lalu Salah salah dikit, harap maklum oOo Soe Hok Gie sekali lagi, diharapkan menjadi buku baru sekali lagi tentang Soe Hok gie, berisikan kisah saksi hidup pendakian di zaman awal Orde Baru Juga saksi saksi teman dan konco dekat Hok gie dalam soal buku pesta dan cinta di kampus UI Rawamangun Salemba , tentu juga perihal alam bangsanya yang baru menapak di zaman pembangunan sebelum menapak ke zaman reformasiBuku baru tentang Soe Hok gie ini, khususnya akan memuat komentar dan telaah penulis dan pengamat cuaca sosial budaya politik budaya Indonesia Rupanya ada kemiripan yang tidak sama tapi nyaris serupa, antara situasi sekarang danan tahun laluIni buku tentang perilaku dan pemikiran terhadap keadaan bangsa dan negara Sebab dari kumpulan tulisan pilihan Hok gie, rasanya masih cocok sebagai bumbu bandingan , perihal politik pemerintahan, di zamannya Hok gie sebagai penulis muda di usia di tahun, sampai di zaman reformasi n iniRekan seprofesi, mantan anak anak gerakan Orde Baru pun, masih sempat menulis tentang Hok gie Bukan pengamat senior saja, malah beberapa pengamat dan pemerhati yang tidak sempat berkenalan dengan Soe, ikutan menyumbangkan buah pikirannya dalam buku kecilan halaman yang akan terbit khusus, di hari peringatan meninggalnya Soe dan Idhan,DesembernantiHok gie bukan hanya tajam menulis kritik terbuka, dia juga mampu menulis puisi alam sehalus kabut Mandalawangi Juga pilihan puisi dan lirik lirik lagu, menunjukkan selera kepedulian Hok gie terhadap seni budaya manusia universal tanpa batasanKesetaraan, kepedulian dan kemajemukan merupakan garis besar dan haluan utama segala tulisan di media massa dengan nama Soe Hok gie